Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Mematik Semangat "Bocah nDeso" di SMPN 1 Kaloran Bersama Kadang Peduli 2019

Gambar
foto bersama seluruh motivator yang terlibat dalam Kadang Peduli 2019   Berawal dari obrolan ringan dengan mbak Maya (motivator dari Jakarta) di grup, saya mendapat kesempatan emas untuk bergabung dengan kegiatan Kadang Peduli 2019. Karena obrolan dengan beliaulah saya tertular virus semangat untuk memotivasi tanpa dasar apapun dan bermodal nekat seperti biasanya. Bersama Mbak Maya, motivator "penular virus" Namun sungguh tidaklah menyesal ikut bergabung dengan Kegiatan Kadang Peduli yang diprakarsai oleh FIKT. FIKT atau Forum Ikatan Kadang Temanggungan merupakan paguyuban warga Temanggung untuk saling berkomunikasi, ajang tukar menukar informasi, mempererat tali persaudaran, serta mediator bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia yang handal dan khususnya bagi pengembangan daerah Kabupaten Temanggung dengan segala potensi sumber daya alam yang diketuai oleh mas Eli Mantofani. Rerata anggota FIKT adalah warga Temanggung yang merantau dan membangun keluar

Rindu (kembali) Mencumbu

Gambar
Entah mengapa rindu kembali mencumbu Sejak perpisahan haru waktu itu, Aku tahu engkau telah bahagia, bertemu dengan kekasih hati yang selalu kalian tunggu, Ada beberapa kisah yang kau tuang Saat engkau berada pada ambang, Tatapmu nampak girang Akan segera bertemu sang Hyang Dan kini kerinduan kembali menjalang. Memompa degup semakin mengencang Hanya mampu menabur dalam kerontang Mantra doa terbaik laksana gemintang Bersimpuh di atas sajadah, Bibir dan hati tak pernah lelah Jauh, jauhkanlah siksa kubur membelah Dekat, dekatkan Nur Illahi terangi jiwa yang lemah Rinduku tak bertepi Geliat takzim menghujam hati Untuk Pahlawan sejati kami BAPAK dan MAKNE LerengSusi, 10 Muharam 1441 H/ 10Sep19

Terpesona Keseksian Umar

Gambar
foto diambil dari Pos Belitung Tribunenews Laki - laki garang nan macho itu terlihat seksi di mataku. Bagaimana tidak? Konon suaranya “menggelegar” laksana petir. Membuat gentar siapapun yang mendengarnya. Terlebih saat emosi tingkat dewa, pedang selalu terhunus di tangannya. Bahkan dia tega berniat membunuh adik perempuannya gegara sedang menekuri lembar shukhuf penerang  jiwa. Bagaimana tidak terlihat seksi? Saat emosi mendengar adiknya, Fatimah binti Khattab tengah belajar al quran di rumah Arqam bin abi Arqam. Dengan pedang terhunus didobraklah pintu rumah Arqam dan diseretnya sang adik. Fatimah dengan ketenangan luar biasa karena yakin bahwa yang dilakukan sebuah kebenaran maka hanya menolak permintaan sang kakak untuk memberikan lembar yang tengah dibaca. Bahkan mengatakan kakaknya terlalu kotor dan harus membersihkan diri untuk bisa memegang lembar yang tengah dibacanya.   Entah kenapa Umar bin Khattab si garang layaknya singa rakus itu tunduk saja disuruh membersih

DUA PULUH DUA HARI ‘WISATA ROHANI” BERSAMA BAPAK

Gambar
Datang akan pergi Lewat kan berlalu Ada kan tiada Bertemu akan berpisah Awal kan berakhir Terbit kan tenggelam Pasang akan surut Bertemu akan berpisah Heii Sampai jumpa di lain hari Untuk kita Bertemu lagi Ku relakan dirimu pergi Meskipun Ku tak siap untuk merindu Ku tak siap tanpa dirimu Ku harap terbaik untukmu Bila mendengar si Erix “ Endank Soekamti ” teriak serak menyanyikan lagu tersebut dari handphone anak bungsu, biasanya diriku akan ikut teriak mengalahkannya. Namun sore ini mendengar lamat suara si Erix membuatku tercekat dan mata langsung memerah basah. Kuusap dua bulir air yang menetes di sudut mata. Ingatan langsung terbang di sekitaran akhir Maret hingga awal April 2019, dimana firasatku membisikkan bila perjumpaan Bapak dengan sang Kekasih Abadi akan segera terjadi dan menyisakan perpisahanku dengan Bapak. Ya, sejak meminta disiapkan baju ihram yang teronggok di lemari baju di rumah Kauman Parakan, diriku segera menata hati dan terus berdebar

BENCI BAPAKKU

Gambar
Mungkin diantara tujuh bersaudara, saya termasuk anak “durhaka”, sekedar remah remah yang tidak bisa dibanggakan oleh Bapak. Bila dahulu makne almarhumah semasa hidupnya memahami “kelemahan” saya hingga saya pun bisa memahami makne dengan segala kebaikan dan kelemahannya juga.Tapi tidak dengan Bapak, di mata Bapak saya adalah seorang anak yang tidak layak diceritakan selain harus menyelesaikan masalah sendirian. Dan enam anak selalu membanggakan Bapak, tidak ada yang berani membantah apa yang Bapak katakan. Saya tidak! Saya tetap berani menjawab bilamana apa yang dikatakan Bapak kurang pas. Pernah suatu hari Mbakyu nomor tiga sampai bilang, “Bulik, kok tidak ada takutnya dengan Bapak mbok jangan membantah, Bapak bilang apa dituruti”. Saya langsung menyalak   : “Lhooo kok dibilang membantah to? Justru ini membuka diskusi panjang dengan beliau”. Terbukti setiap kami sowan minimal seminggu sekali sejak makne sakit hingga Bapak meninggal April lalu, Bapak suka berdiskusi apapun denga