Postingan

Puisiku Menjadi Lagu. Mungkinkah?

  Saya sering mendengar berita tentang sisi positif dan negatif penggunaan Artificial Intelegent (AI) dalam kehidupan sehari - hari. Namun belum berminat menggunakan hingga pada pertengahan Desember 2023 saya membaca sebuah opini di koran Kompas tentang manfaat dan bahaya kecerdasan buatan tersebut serta menampilkan sebuat alamat OpenAI.com/CHATGPT. Iseng mendaftar dan terlintas di pikiran saat itu ingin membuat puisi dengan bantuan AI. Begitu mengetik kata “Secangkir Teh”, tidak sampai tiga menit muncullah deretan kata seperti puisi tanpa harus memeras otak dan mengolah rasa di hati seperti yang saya sadur di bawah ini: Secangkir Teh di Pagi Hari Setitik embun di ujung daun, Menyapa pagi yang baru bangun, Secangkir teh kuangkat perlahan, Menghangatkan jemari yang masih dingin. Aromanya lembut, mengalun perlahan, Membawa damai ke dalam dada, Seperti bisikan lembut sang pagi, Mengiringi langkah awal hari ini. Seteguk tenang, melenyapkan gelisah, Mengalir hangat dala...

Sekelumit Kisah Tentang Alun-alun Temanggung.

Penataan Ruang adalah suatu sistem proses Perencanaan Tata Ruang, Pemanfaatan Ruang, dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang yang disusun secara nasional, regional, dan lokal. Di tingkat Kabupaten/kota disebutkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (1) bahwa Kawasan Strategis Kabupaten/Kota adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten/kota terhadap ekonomi, sosial, budaya, dan,/atau lingkungan serta merupakan bagian tidak terpisahkan dari rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota. Diharapkan dengan adanya peraturan pemerintah tersebut penataan ruang atau wilayah dengan maksud agar terjadi pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi serta terjaga stabilitas wilayah dan terjadi kesinambungan pembangunan baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang di tingkat kabupaten dan selaras dengan rencana pembangunan nasional. Salah satu ruang publik y...

Untuk Pengantinku

Baju kebesaran ditanggalkan saat pesta usai Tiba waktu menuju dunia nyata penuh riak, onak dan duri Hanya orang tabah yang mampu hadapi   Jika aral menghadang langkah Teruslah bergenggaman tangan Untuk senantiasa bertasbih padaNya.   Saat cobaan hadir dalam kehidupan, hanya satu pinta Bersabarlah, tegakkan sholat dan berdzikir padaNya Agar hati menjadi tenang arungi marcapada penuh warna.   Selamat berbahagia mas Rasyid dan mba Dina merangkai kisah Semoga menjadi keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah Selalu dalam genggaman cintaNya penuh barokah.     Temanggung, 23 Oktober2023   Ikut berbahagia

Tempayan Kepercayaan

  Punguti satu persatu sisa remahan Rangkai pelan serupa tempayan Tampungi sejumput jura keyakinan Atas luka hati enggan beranjak ke tepian,     Memang tak mudah Kembali seperti semula tertinggal secuil remah Remuk redam ditimpa sangka   Dalam bayang bayang kelam tampak sekerlip kunang biaskan secercah pualam Tempayan kembali utuh tak kapang Memeluk percaya yang hampir enggan pulang   6Oktober 24

Geosim Bersalin Petrikor

  Ketika hujan memberi kabar Akan datang sambangi pertiwi Aku menghambur keluar ruangan Turut menyambut sejenak geosim   Sayangnya ia tak sudi bersabar Hujan sudah keburu tiba Enggan menantiku barang sejenak Kukira melewati sebuah gerimis   Air segera turun ke bumi Menderas membasahi tanah kering Akhirnya kutemukan aroma lain Serupa petrikor yang terlanjur menghampiri Lereng Susi, 13 Oktober 24

Aku Rela

 P erang bintang mulai lencang Muntahkan syahwat jalang Abaikan kemanusiaan Rengsa jiwa - jiwa melayang. Sia sia belaka!   Bila kau temukan ragaku di jalanan Jangan kau abaikan Aku rela disiram air menggelepar Aku rela dilempar asap hingga mata lejar Aku rela dada terasa panas menjalar Aku rela mati sia sia! Agar kau hidup lepas distopia! Lereng Susi, 22 Agustus 24

Aib Tersembunyi

Kemarin, matahari mengintip di ufuk timur aku dipertemukan awan dan mega Mereka berarak pelan menuju kaki langit   Tetiba awan berhenti dan menatap sejenak sembari berbisik Apa kabar aib yang tersembunyi epik? Aku tergeragap tak mampu menjawab pertanyaan klasik   Bukan rahasiaku yang diulik Namun tanyamu cukup menggelitik Disaat aku payah hujan peluh   Awan terus semburkan tanya selaksa bara menyala Sementara mega sesekali genit bertingkah Menyingkap langit lalu selubungi lagi untuk torehkan kisah   Aku memang tak petah lidah Tapi kali ini tak ingin aib   lebih menganga terkuak Akan kujawab sembari menahan sesak   Awan, berhentilah sampai di engkau Atas tanya yang coba kau ungkap Teguk dalam - dalam ludah keingintahuanmu   Bayangkan kau bersanding mega di angkasa Beriringan laksana pengantin muda Lenggak lenggok genit bermanja   Sejatinya hanya jalankan titah Sembari bertakbir illah illah i...

Kado Terindah di Usia Matang Manggis

Sebenarnya, tulisan ini sudah pernah publish sebelas tahun yang lalu. Tapi membaca kembali maksud tulisan ini kubuat, sepertinya masih tetap relevan  pada kondisi kapanpun sebagai pengingat bahwa dalam Alquran telah diingatkan bahwa kehidupan hakiki di awal t ahun 40 tahun. apakah akan menjadi pribadi yang  ber amar ma,ruf  dalam hidayah Allah, maupun kebalikannya ber nahi mungkar adalah pilihan hidup. Untuk itu yang harus kita lakukan hanya selalu memohon pada Tuhan agar kita selalu dalam lindungan  dan hidayah Allah. Selamat membaca. ******************************************************************************* Hari ini tanggal 2 Juli 2014 tepat usiaku yang ke 40 tahun. Di blog kontrakan bersama disebut usia matang manggis dan harus sudah dewasa dalam bersikap. Orang barat bilang live begin 40 Th . Tapi sayangnya sampai detik ini aku belum “begin-begin”. Belum ada perubahan berarti dalam hidupku, masih begini begini saja.  :lol: Mengawali hari bersejarah in...

Balada Hujan Selasa Siang

Gambar
  Kemarin semesta kirimkan pesan Melalui comulonimbus gelap pekat Disusuli derasnya derai hujan Bumi negeri tembakau tercekat   Sang banyu melesak berkelana Seraya berucap tasbih menuju muara Sungguh tak ada niat merusak bumi Mereka sekadar mencari aliran sendiri   Harus memutar karena alur terhalang tembok keangkuhan, aspal dan beton berpelukan Sampah masyarakat sembarangan buang ludah keserakahan  Tutupi langkah arah menuju jalan pulang   Jikalau di Bumi phala memakan korban Bukan berarti Tuhan tengah memberi cobaan Namun hanya sekedar memberi peringatan Janganlah Sunatullah kau lawan   Bumi terlalu lelah menopang kesombongan Saatnya manusia turut menjaga air susuri titian Agar anak cucu tak menanggung beban Atas dosa para pendahulu dalam sesalan   Sang tirta tetap ingin berbagi kisah Tanah telanjang biarkan menyerap basah Akar pohon menjadi saksi pergumulan indah Kembalikan bumi pada marwa...

Putiba: Cawan Berharga

IdaMoerid Darmanto Pada persamuhan kali ini kuhilangkan segala ngeri gelagat geliat tarian erotis perebutan cawan eksotis   Kuhamburkan mantra pada langit biru semoga cawan berharga itu tidak jatuh pada tangan yang sibuk memburu kepentingan periuk   Dalam cawan belenggu tahta terbaring sejumput asa menggenapkan tengara utopia mereka yang terempas dan papa lerengSusi, 30 Oktober 25

Orkestra (tak) Bernurani

Untuk kau yang tengah berlagu, dengan gaya lirik sendu,  iringi kecipak nada mendayu,  seolah nelangsa menusuk kalbu terasa merdu di telinga sekitarmu  Pada jiwa- jiwa rengsa,  nyanyian ode semakin bergema,  punguti hamburan kesia-siaan  remah-remah tamak serakah,  berserakan di akhir senja  Untuk kau yang tengah mainkan orkestra, teruslah tersenyum samar,  meski tatap matamu terlihat nanar,  tapi hatimu riang anak rahimmu tak gusar, semua ingin telah gangsar  Janganlah kau palingkan wajahmu ke kanan dan ke kiri,  karna akan banyak kau temui anak cucu negeri,  bercucur darah dan keringat melawan tirani tertatih menjaga agar elok negri  tetap dalam dekapan pertiwi LerengSusi,IMD  22Agustus24

Belajar pada Alam

Bersabar seperti matahari Meski banyak yang menghindari Perempuan berbedak sunscreen, Berpayung selubungi diri Sesekali berkeluh atas teriknya Ia tetap setia menjadi pelita   Berpendar seperti rembulan Meski cahaya tidak sempurna Membias seluruh gelap malam Ia mampu menarik minat muda mudi Berdiam diri menikmati purnama Melarut pada bulan sabit menggamit   Berdiam seperti langit biru Tak pernah jenuh naungi bumi Tanpa tiang - tiang pancang Agar manusia mampu rasakan Tanda - tanda terang dan gelap Yang dikirim dari dirgantara   Berpasrah seperti bumi Rela diinjak sepanjang janji Dilukai, dikuliti, ditebang, digunduli Dikeruk   sedalam kerakusan syahwati Ia tetap setia menjaga rahim Agar terjaga keselamatan pertiwi   Tak mungkin matahari mendahului bulan Tak mungkin bumi berjumpa langit Mereka bergerak sesuai sabdaNYa Bila ada secuil rasa ingin berbeda Pastilah memberi isyarat bagi manusia Segera mer...

Palu Kedaulatan Patah

  Para peludah api telah memuntahkan peluru. Pagi penuh suka cita sore memporakpanda Mematahkan palu kedaulatan untuk rakiyat,   Entah berpihak pada siapa mereka Masihkah ada secuil nalar tanggalkan syahwat menguar Biarkan dia bercengkrama dengan tengara   Dan kini hanya bisa meratapi tanpa sanggup mengerti. Rakiyat hanya "konstanta" belaka. Ada tapi tak bermakna.   Ingatlah Ambisi akan menghantarkan - mencapai puncak keinginan. Namun semesta   tak ingkar janji - pasti akan tunjukkan jati diri. Takkan lagi menopang - saat ambisius temukan ambang.   Kami tak ingin, karena memaksakan diri, Membawa negri loh jinawi Merebah lelah di penghujung senjakala   IdaMoeridDarmanto, lereng SuSi (Sumbing SIndoro)/16Okt23

Perempuan tangguh dari Negri Bahari

  Tak pernah sedikitpun terbersit Saban hari berkubang gigil Menggeret kapal dari buritan Menuju samudra karib harian   Sepuluh tahun lampau. Sunarti dan   perempuan lain dari Timbulsloko, Demak Hanyalah seorang ibu yang lemah Tak lelah menanti sembari merepihkan sebait doa   Untuk para suami pejuang Mengarungi   dahsyatnya samudra Membawa hasil tangkapan ikan Bagi keberlangsungan kehidupan keluarga   Karena perubahan iklim berdampak Kini ia terpaksa bergelut dengan ombak Melakoni pekerjaan bukan angan Hanya karena tak ada pilihan Mencari secuil harapan Agar mampu bertahan dari gempuran zaman   Para perempuan bahari tangguh Riyawatmu telah berubah Kepasrahan menjadikan perkasa Kokoh menjadi penyangga utama Lereng Susi/6 OKtober 2023